Profesor Tolak Nilai Tugas Karena AI

Bagoes anwar

Profesor Tolak Nilai Tugas Karena AI

Esportivonews.com – Fenomena kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah memicu gelombang perubahan besar di berbagai sektor kehidupan manusia. Namun, di dunia pendidikan tinggi, kehadiran teknologi ini justru memicu krisis integritas yang membuat para pendidik merasa frustrasi. Salah satu kasus yang paling mencolok datang dari Amerika Serikat, di mana seorang profesor universitas ternama memutuskan untuk mengambil langkah ekstrem sebagai bentuk protes terhadap penggunaan AI oleh mahasiswa.

Richard Borcherds, seorang profesor matematika terkemuka di University of California, Berkeley, menyatakan bahwa ia kini menolak untuk memberikan penilaian berdasarkan kebenaran jawaban dalam tugas-tugas mahasiswa. Keputusan drastis ini diambil karena ia merasa tidak ada gunanya lagi memeriksa jawaban yang dikerjakan oleh mesin, bukan oleh manusia. Menurutnya, tren penggunaan alat seperti ChatGPT telah merusak esensi dari proses belajar itu sendiri.

Profesor Tolak Nilai Tugas Karena AI
Gambar Istimewa : www.dexerto.com

Dalam sebuah pernyataan yang dikutip dari media lokal, Borcherds mengungkapkan bahwa memberikan nilai berdasarkan ketepatan jawaban justru memberikan insentif bagi mahasiswa untuk terus menggunakan AI. "Menilai berdasarkan kebenaran jawaban hanya akan mendorong mereka untuk menggunakan AI daripada mengerjakan tugas itu sendiri. Hal ini justru menghukum mahasiswa yang jujur," tegas Borcherds.

Sebagai pemenang Fields Medal, seorang penghargaan tertinggi dalam bidang matematika, Borcherds merasa bahwa penggunaan AI di kalangan mahasiswa sudah sangat meluas. Ia mengakui bahwa saat ini hampir tidak ada cara mudah bagi pengajar untuk membedakan mana karya yang murni hasil pemikiran manusia dan mana yang dihasilkan oleh algoritma AI. Kondisi ini membuat proses evaluasi akademik menjadi tidak relevan.

Akibatnya, Borcherds mengubah metode penilaiannya secara total. Kini, ia hanya memberikan nilai berdasarkan ketepatan waktu pengumpulan tugas. Baginya, apakah jawaban mahasiswa benar atau salah tidak lagi menjadi parameter utama, karena ia tidak yakin apakah jawaban tersebut benar-benar hasil pemikiran mahasiswa atau sekadar hasil salinan dari mesin. Bahkan, ia menyebut bahwa mempekerjakan asisten untuk memeriksa tugas pun menjadi sia-sia karena masalah yang sama.

Menariknya, Borcherds bahkan sempat mencoba berkonsultasi dengan ChatGPT mengenai dilema yang ia hadapi ini. Namun, kecerdasan buatan tersebut pun mengaku tidak tahu bagaimana masa depan pendidikan akan berjalan di tengah gempuran teknologi ini.

Fenomena ini menunjukkan bahwa dunia pendidikan sedang berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, teknologi menawarkan kemudahan, namun di sisi lain, ia mengancam kejujuran akademik. Beberapa negara mulai mengambil langkah tegas untuk mengatasi masalah ini. Sebagai contoh, Norwegia telah menerapkan aturan ketat di mana siswa sekolah dasar dilarang menggunakan AI, sementara siswa di tingkat yang lebih tinggi hanya boleh menggunakannya di bawah pengawasan guru.

Di New York, upaya penertiban terhadap penggunaan AI di sekolah-sekolah juga mulai digalakkan. Hal ini dipicu oleh kekhawatiran orang tua dan guru terhadap penggunaan robot humanoid berbasis AI yang digunakan untuk membantu proses pengajaran, yang dianggap dapat mengikis interaksi manusiawi dalam pendidikan. Krisis yang dialami Borcherds di Berkeley menjadi alarm keras bagi institusi pendidikan di seluruh dunia untuk segera merumuskan regulasi yang tepat guna menghadapi era kecerdasan buatan.

Baca Juga

gnews

Tags

Tinggalkan komentar