Esportivonews.com – Dunia media sosial tengah diselimuti duka mendalam setelah kabar meninggalnya bintang TikTok ternama, Brooke Eby, beredar luas. Kreator konten yang dikenal dengan nama pengguna "Limpbroozkit" ini mengembuskan napas terakhirnya pada usia 37 tahun setelah perjuangan panjang melawan penyakit Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS) atau yang juga dikenal sebagai penyakit Lou Gehrig.
Kepergian Brooke bukan sekadar kehilangan seorang pembuat konten, melainkan hilangnya seorang pejuang yang telah memberikan warna baru dalam cara dunia memandang penyakit degeneratif saraf tersebut. Melalui platform TikTok dan Instagram, Brooke telah membangun komunitas besar yang terdiri dari ratusan ribu pengikut yang terinspirasi oleh keberaniannya.

ALS Network, organisasi yang bergerak di bidang dukungan pasien ALS, secara resmi mengumumkan kabar duka ini pada awal Oktober. Dalam pernyataan resminya, organisasi tersebut memberikan penghormatan tertinggi kepada Brooke. Mereka menyebutnya sebagai seorang advokat yang luar biasa, pencerita yang hebat, pembangun komunitas, sekaligus sahabat bagi banyak orang.
Sheri Strahl, Presiden dan CEO ALS Network, mengungkapkan bahwa dampak yang ditinggalkan Brooke sangatlah mendalam. Menurutnya, Brooke telah berhasil mengubah perspektif masyarakat terhadap ALS. Lebih dari itu, ia juga menciptakan ruang bagi sesama penyintas untuk saling menemukan dan memberikan dukungan satu sama lain di masa-masa tersulit mereka.
Perjalanan Brooke melawan penyakit ini dimulai sejak ia pertama kali merasakan gejala pada tahun 2018. Namun, diagnosis resmi baru didapatkan pada Maret 2022. Sejak saat itu, ia memutuskan untuk tidak bersembunyi di balik rasa takut. Sebaliknya, ia memilih untuk mendokumentasikan setiap fase penyakitnya secara jujur kepada publik.
Salah satu hal yang membuat konten Brooke begitu unik adalah penggunaan humor di tengah situasi yang sangat berat. Dalam sebuah wawancara dengan media Today, ia pernah menyatakan bahwa "keceriaan adalah kekuatan supernya." Ia tidak membiarkan penyakit tersebut merenggut semangat hidupnya, melainkan menjadikannya alat untuk mengedukasi masyarakat.
Brooke juga berusaha mematahkan stigma bahwa ALS hanya menyerang pria lanjut usia. Ia ingin menunjukkan bahwa penyakit ini bisa menyerang siapa saja, tanpa memandang usia atau latar belakang. "Saya bisa saja menjadi anak perempuan, saudara perempuan, ibu, atau istri seseorang. Saya ingin orang-orang melihat saya dan merasa bahwa ini adalah realitas yang nyata," ungkapnya dalam sebuah esai.
Seiring berjalannya waktu, kondisi kesehatan Brooke terus menurun secara signifikan. Ia sempat membagikan momen ketika kapasitas pernapasannya berkurang dan saat ia harus menjalani prosedur pemasangan selang makanan. Pada tahap akhir, ia juga mengalami gejala bulbar yang membuat kemampuan bicara dan menelannya menjadi sangat sulit.
Meski raganya telah tiada, warisan yang ditinggalkan Brooke akan tetap hidup. Melalui organisasi nirlaba yang didirikannya, ALStogether, ia telah membuka jalan bagi para pasien ALS untuk mendapatkan akses ke sumber daya, ahli medis, dan pendamping. Brooke juga berharap video-video yang telah ia unggah dapat menjadi "buku harian visual" dan panduan bagi mereka yang baru saja menerima diagnosis serupa di masa depan.







