Skandal AI Hancurkan Karier Penulis Prancis

Bagoes anwar

Skandal AI Hancurkan Karier Penulis Prancis

Esportivonews.com – Dunia literasi internasional tengah diguncang oleh skandal besar yang melibatkan dugaan penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam karya sastra. Sebuah novel debut yang tengah naik daun dan menjadi fenomena di Prancis, C’était ça ou mourir, resmi dicoret dari daftar nominasi penghargaan sastra paling bergengsi di negara tersebut, Prix Goncourt.

Keputusan mengejutkan ini diambil oleh Académie Goncourt pada Jumat, 25 September. Langkah tegas tersebut dilakukan setelah munculnya tuduhan kuat bahwa novel karya Thylyson Orlién tersebut sebagian besar ditulis oleh mesin, bukan oleh tangan manusia. Tidak hanya masalah AI, Orlién juga terseret dalam pusaran skandal plagiarisme yang merusak reputasi intelektualnya.

Skandal AI Hancurkan Karier Penulis Prancis
Gambar Istimewa : www.dexerto.com

Drama ini bermula dari sebuah akun media sosial X (sebelumnya Twitter) bernama "Balance ton Claude". Akun tersebut mengklaim telah melakukan pengujian terhadap potongan-potongan teks dalam novel tersebut menggunakan alat deteksi bernama Pangram. Hasilnya mengejutkan: novel yang telah terjual sekitar 35.000 eksemplar dan menduduki puncak daftar buku terlaris di Prancis ini diduga kuat merupakan hasil produksi AI.

Meskipun para ahli masih memperdebatkan keakuratan alat deteksi AI, Académie Goncourt memilih untuk tidak mengambil risiko. Lembaga tersebut menyatakan bahwa mereka telah meninjau analisis dari para peneliti dan jurnalis yang dianggap kredibel. Dalam pernyataan resminya, pihak akademi menegaskan bahwa tujuan utama dari penghargaan Goncourt adalah untuk menghormati karya sastra yang murni ditulis oleh manusia, baik laki-laki maupun perempuan.

Skandal ini semakin diperparah dengan terungkapnya rekam jejak masa lalu Orlién. Laporan dari media La Presse menyebutkan bahwa karya-karya sebelumnya milik Orlién juga mengandung unsur plagiarisme. Sebuah cerita pendek dari tahun 2012 diduga mengambil bagian dari tulisan penulis Prancis Louis Pauwels, sementara sebuah artikel opini pada tahun 2013 dilaporkan menjiplak konten dari The Philippine Star.

Di sisi lain, Thylyson Orlién, penulis keturunan Haiti-Kanada yang berbasis di Quebec, membantah keras tuduhan penggunaan AI tersebut. Pihak penerbitnya, Boréal, menyatakan bahwa draf novel tersebut sebenarnya sudah selesai pada tahun 2019, jauh sebelum teknologi AI generatif menjadi populer seperti sekarang. Namun, pihak penerbit juga mengakui ketidakpastian mengenai apakah ada campur tangan AI dalam naskah tersebut sebelum sampai ke tangan mereka.

Saat ini, Orlién memilih untuk menarik diri dari sorotan publik. Ia menyatakan kepada The Canadian Press bahwa dirinya ingin fokus pada pemulihan kesehatan fisik dan mentalnya. Sementara itu, Académie Goncourt tetap bungkam dan tidak akan memberikan komentar lebih lanjut hingga pengumuman daftar pendek resmi pada 6 Oktober mendatang.

Kasus ini menjadi peringatan keras bagi industri kreatif di seluruh dunia. Di tengah kemudahan teknologi, batas antara kreativitas manusia dan hasil algoritma menjadi semakin kabur, memicu perdebatan panjang mengenai etika dan keaslian dalam berkarya.

Baca Juga

gnews

Tags

Tinggalkan komentar