Esportivonews.com – Dunia museologi internasional tengah diguncang oleh perdebatan etika yang mendalam terkait cara penanganan artefak manusia purba. Sebuah langkah mengejutkan diambil oleh dua museum ternama di Glasgow, Skotlandia, yang memutuskan untuk menarik mumi Mesir kuno dari ruang pameran publik. Keputusan ini bukan disebabkan oleh kerusakan fisik pada artefak, melainkan karena isu moral yang sangat sensitif: ketiadaan izin atau persetujuan dari sang pemilik tubuh.
Langkah berani ini muncul sebagai respons terhadap revisi Kode Etik Dewan Internasional Museum (ICOM) yang dijadwalkan berlaku penuh pada Juni 2026. Dalam aturan terbaru tersebut, museum diinstruksikan untuk menjunjung tinggi martabat yang melekat pada sisa-sisa manusia dan mempromosikan rasa hormat terhadap signifikansi sejarah serta spiritual mereka. Hal ini memicu gelombang refleksi di berbagai institusi budaya di seluruh dunia.

Salah satu kasus yang paling mencolok adalah penarikan jenazah Nekht, seorang pendeta Mesir yang diperkirakan hidup antara tahun 1985 hingga 1797 SM. Sebelumnya, jasad Nekht menjadi salah satu daya tarik utama di Kelvingrove Art Museum and Gallery. Namun, kini ruang pameran tersebut telah kosong dari keberadaan sang pendeta. Pihak pengelola museum menyatakan bahwa keputusan ini diambil karena tidak adanya bukti bahwa Nekht atau keturunannya pernah memberikan izin agar tubuhnya dipamerkan kepada khalayak umum.
Kondisi serupa juga terjadi di The Hunterian Museum. Di sana, mumi Lady Shep-En-Hor tidak sepenuhnya dihilangkan, melainkan ditutupi dengan kain khusus agar tidak dapat dilihat langsung oleh pengunjung. Meski demikian, sarkofagusnya yang berhias indah tetap dibiarkan berada di ruang pameran sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai seni sejarahnya.
Glasgow Life, organisasi amal yang mengelola Kelvingrove, menegaskan bahwa keputusan ini merupakan bentuk penghormatan tertinggi. "Kami percaya bahwa menarik sisa-sisa manusia Mesir kuno dari ruang pameran adalah tindakan yang lebih menghormati individu yang telah meninggal tersebut," ujar juru bicara lembaga tersebut.
Keputusan ini tidak muncul begitu saja. Sebuah kelompok parlementer mengenai repatriasi Afrika sebelumnya telah menyuarakan kekhawatiran etis yang serius. Mereka menyoroti adanya pengabaian yang terus-menerus terhadap keinginan dan niat para leluhur yang telah menguburkan jenazah tersebut dengan ritual suci ribuan tahun silam.
Menanggapi fenomena ini, Profesor Steph Scholten, anggota komite etika ICOM, menjelaskan bahwa kode etik tersebut sebenarnya berfungsi sebagai panduan moral, bukan hukum yang memaksa. Setiap museum memiliki otoritas penuh untuk menentukan kebijakan internal mereka sendiri. Meskipun Kelvingrove dan The Hunterian mengambil langkah yang sedikit berbeda, keduanya menunjukkan pergeseran paradigma besar dalam cara dunia modern memandang sejarah: bahwa sejarah bukan sekadar objek tontonan, melainkan tentang menghargai kemanusiaan yang pernah ada.







