Esportivonews.com – Bayangkan jika rutinitas pagi Anda bukan terjebak kemacetan jalan raya, melainkan membelah awan dengan mesin pendorong di punggung. Hal unik sekaligus mencengangkan ini dilakukan oleh Jake Hutzler, seorang petugas pengatur lalu lintas udara atau air traffic controller (ATC) di Colorado, Amerika Serikat. Alih-alih menggunakan mobil atau transportasi umum, pria berusia 28 tahun ini memilih menggunakan paramotor untuk berangkat bekerja.
Aksi nekat namun terencana ini dilakukan Hutzler setidaknya seminggu sekali menuju Bandara Memorial Pueblo. Menariknya, ia tidak terbang secara sembunyi-sembunyi. Sebagai seorang profesional di bidang penerbangan, Hutzler memahami betul protokol keselamatan. Sebelum lepas landas dari jalanan di dekat apartemennya, ia akan menghubungi menara pengawas melalui radio. Ia memberikan laporan kepada rekan-rekan kerjanya bahwa ia sedang dalam perjalanan menuju bandara, lengkap dengan pembaruan posisi dan ketinggian terbangnya secara berkala.

Bagi Hutzler, pengalaman terbang dengan paramotor memberikan sensasi yang tidak bisa didapatkan oleh pilot pesawat komersial sekalipun. "Dengan paramotor, Anda mendapatkan pemandangan yang hampir tidak pernah dialami oleh orang lain. Tidak ada kokpit, tidak ada penghalang di depan Anda," ungkapnya saat menceritakan kebebasan yang ia rasakan di udara.
Kecintaannya terhadap dunia dirgantara bukanlah hal baru. Minat ini tumbuh sejak kecil ketika kakeknya sering mengajaknya terbang menggunakan pesawat kecil berkapasitas empat kursi. Hutzler bahkan sempat menempuh pendidikan pilot saat masa kuliah dan mengumpulkan sekitar 20 jam terbang. Namun, kendala biaya sempat menghentikan impiannya untuk meraih lisensi pilot profesional.
Titik balik terjadi ketika ia melihat sebuah video viral tentang seseorang yang terbang menggunakan paramotor hanya untuk pergi ke restoran McDonald’s. Video tersebut menginspirasi Hutzler untuk kembali menyentuh langit. Ketika ia mulai bekerja sebagai petugas ATC awal tahun ini, ia menyadari bahwa waktu luangnya untuk hobi terbang semakin berkurang. Alih-alih menyerah, ia justru menemukan solusi kreatif: menjadikan perjalanan berangkat kerja sebagai waktu terbangnya.
Meski terdengar sangat keren, metode transportasi ini sebenarnya tidak lebih cepat daripada mengendarai mobil. Proses memasang sayap paramotor dan merapikannya kembali setelah sampai di tujuan justru membuat waktu tempuhnya sedikit lebih lama. Namun, bagi Hutzler, efisiensi waktu bukanlah prioritas utama.
"Tidak ada yang lebih nikmat daripada terbang menuju tempat kerja, berada di ketinggian 500 kaki sambil menikmati kopi Anda," tambahnya dengan penuh semangat. Bagi pria ini, perjalanan menuju kantor bukan lagi sebuah beban, melainkan petualangan harian yang menyegarkan jiwa sebelum ia mulai mengatur lalu lintas pesawat di menara pengawas.







