Esportivonews.com – Dunia pendidikan kembali diguncang oleh kabar mengejutkan yang datang dari Amerika Serikat. Seorang guru pengganti di Iowa dilaporkan kehilangan pekerjaannya setelah terungkap melakukan praktik tidak etis yang melibatkan para siswanya. Alih-alih memberikan materi pelajaran, guru tersebut justru menawarkan nilai tambahan bagi siswa yang bersedia menyumbang untuk biaya perjalanan pribadinya.
Stephanie Mullaley, yang sebelumnya bekerja sebagai guru pengganti jangka panjang di Clinton Community School District, resmi diberhentikan pada akhir Mei 2026. Pemecatan ini dilakukan setelah pihak sekolah menemukan adanya pelanggaran berat terhadap kebijakan etika profesi yang berlaku di institusi tersebut. Kasus ini mencuat ke publik setelah adanya proses hukum terkait pengajuan tunjangan pengangguran yang diajukan oleh Mullaley.

Berdasarkan temuan hakim hukum administrasi, Duane Golden, skandal ini bermula ketika Mullaley mulai membicarakan rencana perjalanan pribadinya kepada para siswa di kelas. Ia mengungkapkan keinginannya untuk melakukan misi medis ke Ekuador bersama suaminya. Namun, yang menjadi masalah utama adalah ketika ia menawarkan "jalan pintas" bagi para siswa untuk mendapatkan nilai tambahan (extra credit) jika mereka bersedia menyumbang melalui platform penggalangan dana GoFundMe miliknya.
Dalam persidangan, Hakim Golden menyimpulkan bahwa tindakan Mullaley telah menciptakan tekanan psikologis bagi para siswa. Para murid merasa seolah-olah mereka tidak memiliki pilihan selain menyumbang jika ingin mendapatkan nilai yang baik di kelasnya. Praktik ini dianggap sebagai bentuk eksploitasi terhadap posisi otoritas yang dimiliki seorang guru terhadap muridnya.
Misi yang direncanakan Mullaley tersebut bertujuan untuk mengumpulkan dana sebesar 1.800 dolar AS guna menutupi biaya transportasi, konsumsi, dan akomodasi selama di Ekuador. Ia berencana bekerja sebagai penerjemah bagi tim medis, sementara suaminya akan membantu dalam tugas-tugas lainnya. Meskipun kampanye penggalangan dana tersebut hanya berhasil mengumpulkan 140 dolar AS dari enam donatur sebelum akhirnya dihentikan, dampak terhadap reputasi profesionalnya sudah terlanjur hancur.
Di media sosial, Mullaley bahkan sempat mempromosikan rencana perjalanan ini dengan narasi religius, menyatakan bahwa perjalanan tersebut adalah panggilan Tuhan. Namun, pihak sekolah tidak melihat hal tersebut sebagai misi suci, melainkan sebagai pelanggaran etika profesional yang fatal. Akibat tindakan ini, permohonan tunjangan pengangguran Mullaley ditolak mentah-mentah karena tindakannya dikategorikan sebagai pelanggaran berat dalam pekerjaan.
Kasus ini menambah daftar panjang pendidik yang kehilangan pekerjaan akibat aktivitas di luar sekolah yang dianggap tidak pantas. Fenomena ini menunjukkan bahwa batasan antara kehidupan pribadi dan profesional di era digital semakin tipis, di mana tindakan di media sosial maupun penggalangan dana pribadi dapat berdampak langsung pada karier seseorang di dunia pendidikan.







