Skandal Kartu Pokemon Avery Tragis

Bagoes anwar

Skandal Kartu Pokemon Avery Tragis

Esportivonews.com – Dunia kolektor kartu Pokemon tengah diguncang oleh kontroversi panas yang melibatkan praktik eksploitasi terhadap tragedi kemanusiaan. Para kolektor menuduh sejumlah penjual nakal atau scalpers memanfaatkan momen kematian seorang kreator konten cilik bernama Avery untuk melambungkan harga kartu Pokemon edisi perayaan ke-30 secara tidak wajar.

Avery, seorang kreator konten berbakat berusia 12 tahun yang dikenal sebagai "Avery the Poke Kid", baru saja mengembuskan napas terakhirnya pada 18 September lalu. Selama hampir delapan tahun, ia berjuang melawan penyakit kanker pankreas stadium 4 yang sangat berat. Sebuah video emosional yang diunggah oleh orang tuanya memperlihatkan momen terakhir Avery saat membuka paket kartu Pokemon. Dalam video tersebut, ia berhasil mendapatkan kartu langka Jirachi Special Illustration Rare dari set perayaan ke-30.

Skandal Kartu Pokemon Avery Tragis
Gambar Istimewa : www.dexerto.com

Momen mengharukan saat Avery menutup mulutnya karena tidak percaya bisa mendapatkan kartu tersebut, sebelum akhirnya berpamitan dengan kalimat, "Sampai jumpa lagi, para pelatih," telah menyentuh hati komunitas Pokemon di seluruh dunia. Sejak saat itu, kartu Jirachi tersebut secara luas dijuluki oleh para penggemar sebagai "Jirachi milik Avery" sebagai bentuk penghormatan.

Namun, suasana haru tersebut berubah menjadi kemarahan kolektor setelah munculnya sebuah unggahan di platform X (dahulu Twitter). Sebuah tangkapan layar menunjukkan seorang penjual di eBay mencantumkan harga kartu Jirachi tersebut sebesar $20.000 atau setara dengan ratusan juta rupiah. Yang memicu kemarahan adalah klaim penjual bahwa 90% dari hasil penjualan akan didonasikan.

Meskipun kartu yang dijual bukan merupakan kartu fisik milik Avery, penggunaan nama dan narasi kematian sang anak untuk menaikkan harga dianggap sebagai tindakan yang sangat tidak etis. Banyak kolektor merasa jijik dengan taktik ini. "Bagaimana mungkin kita menggunakan kematian anak berusia 12 tahun hanya untuk menaikkan harga kartu Pokemon? Ini sangat menjijikkan," tulis salah satu kolektor yang viral di media sosial.

Fenomena ini memicu lonjakan harga yang tidak masuk akal. Jika sebelumnya kartu tersebut diperdagangkan di kisaran $70, harganya kini melonjak drastis melampaui $100, bahkan ada daftar yang meminta harga hingga $240. Data menunjukkan adanya lonjakan transaksi di mana lebih dari 20 salinan kartu tersebut terjual di atas harga $100 hanya dalam waktu 24 jam terakhir.

Menanggapi situasi yang kian memanas, orang tua Avery, Christian dan Rebecca, akhirnya angkat bicara melalui pernyataan resmi di Instagram. Mereka menegaskan bahwa mereka sama sekali tidak terlibat dan tidak mengambil keuntungan dari penjualan kartu yang menggunakan nama atau citra putra mereka.

"Kami tidak menyetujui penjualan ini," tulis mereka dalam pernyataan yang penuh kesedihan. Mereka meminta para penjual untuk segera menghapus daftar produk tersebut karena tindakan tersebut sama sekali tidak mencerminkan kebaikan hati Avery. "Kami sedang berduka atas kepergian putra kami dan sedang fokus mengurus anak-anak kami. Tolong biarkan kami melakukannya dengan tenang," tutup pernyataan tersebut.

Baca Juga

gnews

Tags

Tinggalkan komentar