Esportivonews.com – Dunia digital baru-baru ini dikejutkan oleh tindakan tegas yang diambil oleh raksasa aplikasi pembelajaran bahasa, Duolingo. Perusahaan tersebut dilaporkan telah menginstruksikan seorang seniman digital sekaligus animator ternama, Movail, untuk menghapus seluruh rangkaian karya seni yang menampilkan Lily, maskot remaja bergaya goth milik aplikasi tersebut.
Kejadian ini bermula ketika Movail melalui akun X (sebelumnya Twitter) mengumumkan bahwa ia terpaksa menghapus semua unggahan yang berkaitan dengan Duolingo. Langkah ini diambil bukan atas kemauan pribadi, melainkan karena adanya permintaan langsung dari tim hukum Duolingo. Dalam pernyataannya, Movail menyampaikan permohonan maaf kepada para pengikutnya dan berterima kasih atas dukungan yang telah diberikan selama ini. Ia juga menyatakan akan mengambil waktu istirahat sejenak sebelum kembali berkarya.

Ironisnya, Movail mengungkapkan bahwa karakter Lily bukan sekadar objek seni baginya. Seniman tersebut mengaku memiliki streak atau rekor belajar di aplikasi Duolingo selama lebih dari empat tahun, di mana sosok Lily menjadi salah satu motivasi utamanya untuk terus belajar bahasa setiap hari. Berdasarkan data dari platform Patreon, Movail diketahui telah mendedikasikan waktu berbulan-bulan untuk mengerjakan berbagai animasi bertema Lily.
Lily sendiri dikenal sebagai karakter remaja berambut ungu dengan estetika emo yang sangat populer di kalangan pengguna. Bahkan, popularitas karakter ini telah meluas hingga ke media sosial di Tiongkok, yang kemudian memicu produksi berbagai produk fisik seperti boneka serta stiker resmi.
Namun, ketegangan muncul ketika salah satu karya Movail yang diunggah pada akhir Oktober lalu mendapatkan perhatian luar biasa. Unggahan tersebut berhasil menembus angka 30 juta penayangan sebelum akhirnya dihapus. Kabarnya, karya yang dianggap bermasalah tersebut menampilkan karakter Lily dalam pose-pose animasi yang dinilai provokatif atau tidak sesuai dengan citra perusahaan.
Tindakan hukum Duolingo ini justru memicu reaksi berantai di internet. Alih-alih meredam kegaduhan, langkah ini dianggap memicu apa yang dikenal sebagai Streisand Effect, sebuah fenomena di mana upaya menyembunyikan atau menghapus informasi justru membuat informasi tersebut semakin viral dan dicari oleh publik. Banyak netizen yang justru melakukan repost terhadap karya yang dihapus tersebut dan membanjiri kolom komentar Duolingo dengan berbagai kritik serta lelucon.
Hingga saat ini, pihak Duolingo belum memberikan penjelasan resmi mengenai dasar hukum apa yang mereka gunakan untuk menuntut penghapusan karya tersebut. Di sisi lain, Movail juga tidak memublikasikan dokumen hukum atau identitas pengacara yang terlibat, sehingga belum ada bukti kuat apakah ini merupakan gugatan hukum formal, pelanggaran hak cipta, atau sekadar teguran merek dagang. Kasus ini kini menjadi perdebatan hangat mengenai batasan antara kreativitas penggemar (fan art) dan perlindungan hak kekayaan intelektual perusahaan.







