Konten Ekstrem Berujung Bui! YouTuber Ini Kalah!

Bagoes anwar

Konten Ekstrem Berujung Bui! YouTuber Ini Kalah!

eSportivo Fortnite – Dunia konten kreator kembali diguncang oleh sebuah "epic fail" yang berujung pada "game over" di dunia nyata. Seorang YouTuber asal Maroko, yang dikenal dengan nama Ayoub Ben Nesnes atau Bn Nsns, harus menerima "ban" delapan bulan dari kebebasan setelah aksi kontroversialnya menguliti, memasak, dan menyantap anjing liar mati dalam sebuah video viral. Skandal yang mengguncang jagat maya ini berujung pada vonis pengadilan yang tak terhindarkan.

Pada 6 Juli lalu, Pengadilan Tingkat Pertama Temara menjatuhkan "sanksi berat" kepada kreator berusia 26 tahun ini. Selain mendekam di penjara selama delapan bulan, Ben Nesnes juga diwajibkan membayar denda sebesar 20.000 dirham Maroko, atau sekitar $2.000 USD. Ini adalah harga yang harus dibayar untuk sebuah "play" yang memicu kemarahan publik secara luas di seluruh Maroko, terutama karena video tersebut diunggah saat perayaan Idul Adha.

Konten Ekstrem Berujung Bui! YouTuber Ini Kalah!
Gambar Istimewa : www.dexerto.com

Dalam "play" yang berdurasi 41 menit, Ben Nesnes menampilkan "strategi" ekstremnya. Ia mengambil seekor anjing yang diklaimnya tewas akibat kecelakaan lalu lintas, kemudian menguliti, memanggang dagingnya, dan memakannya. Ia bahkan mencoba membenarkan aksinya dengan dalih sebagai bentuk protes terhadap melonjaknya biaya hewan ternak, mengklaim dirinya tidak mampu membeli domba untuk kurban. Sebuah "meta" yang jelas-jelas salah sasaran dan sangat berbahaya.

Meskipun Ben Nesnes mencoba "counter-play" dengan bersikeras bahwa ia menemukan anjing itu sudah tewas akibat kecelakaan dan tidak membunuhnya sendiri, pembelaannya tidak cukup kuat di hadapan "juri" pengadilan. "Anjing yang muncul di video itu – saya tidak membunuhnya. Saya menemukannya mati di pinggir jalan setelah tertabrak kecelakaan lalu lintas," ujarnya, mencoba membersihkan namanya. Namun, "kill feed" sudah menunjukkan bahwa ia adalah target utama.

Polisi kemudian menangkap Ben Nesnes di kota Martil, Maroko utara, sebelum memindahkannya ke penjara Arjat 1. Tuduhan yang dihadapinya tidak main-main, mulai dari "menghina Islam," "mutilasi hewan tanpa pembenaran," "ancaman kriminal," "menghasut kekerasan," hingga "menerbitkan konten online yang dianggap berbahaya bagi ketertiban umum dan moral." Berbagai organisasi kesejahteraan hewan dan masyarakat sipil bahkan ikut bergabung dalam kasus ini, dengan salah satu kelompok, Organisasi Nasional untuk Perlindungan Elektronik, menuntut hukuman penjara lima tahun dan denda 500.000 dirham. Namun, pengadilan memutuskan untuk membatalkan semua tuntutan sipil dan membatasi putusannya pada hukuman delapan bulan penjara dan denda 20.000 dirham.

Insiden ini bukan "kill" pertama dalam "battle royale" kontroversi konten ekstrem yang melibatkan hewan. Sebelumnya, pada bulan Juni, seekor anjing influencer dengan 1,5 juta pengikut dilaporkan dicuri dan dimakan setelah dijual ke sebuah restoran di Tiongkok. Ini adalah sinyal kuat bahwa "zona berbahaya" bagi para kreator konten semakin meluas, dan batas-batas etika "gameplay" harus ditegakkan lebih ketat.

Kasus Ben Nesnes ini menjadi peringatan keras bagi para kreator konten di seluruh dunia. Sebuah "strategi" konten yang ekstrem dan melanggar norma sosial serta hukum, hanya akan berujung pada "game over" yang menyakitkan, tidak hanya bagi karier, tetapi juga kebebasan pribadi. Apakah ini akan menjadi "meta" baru bagi para regulator untuk lebih ketat mengawasi konten online? Hanya waktu yang akan menjawab, namun satu hal yang pasti: di dunia nyata, tidak ada tombol respawn setelah "ban" permanen. Ikuti terus kabar terbaru dari dunia konten kreator dan eSports di esportivonews.com.

Baca Juga

gnews

Tags

Tinggalkan komentar