eSportivo Fortnite – Para penggemar kompetisi makan, bersiaplah untuk menyaksikan dominasi yang tak tertandingi! Joey "Jaws" Chestnut, sang legenda hidup di arena makan, sekali lagi mengukuhkan posisinya sebagai MVP. Dalam ajang Smoke’s Poutinerie World Poutine Eating Championship 2026 yang digelar di Toronto, Chestnut berhasil melibas 21,25 pon (sekitar 9,6 kg) poutine dalam waktu 10 menit saja, sebuah performa yang membuat semua rivalnya ‘ter-wipe out’ dan terpaksa mengakui keunggulannya. Berita ini meluncur deras dari esportivonews.com, mengonfirmasi bahwa sang raja poutine masih duduk kokoh di takhta.
Pertarungan di ‘battle royale’ poutine ini memang sengit, namun Chestnut bermain di liga yang berbeda. Max Stanford, yang menempati posisi kedua, tertinggal hampir tiga pon dengan total 18,5 pon. Sementara itu, Darrien Thomas dan Nick Wehry harus puas berbagi posisi ketiga, masing-masing dengan 15 pon. Para ‘pro player’ lainnya seperti Oji, Sudo, dan Hendrickson juga menunjukkan ‘skill’ mereka, namun hanya mampu mengamankan posisi enam besar dengan angka di kisaran 13 pon. Jelas, ‘gap’ antara Chestnut dan yang lain seperti jurang Grand Canyon!

Meski meraih kemenangan telak, ada satu fakta menarik yang menunjukkan mental juara sejati. Sebelum pertandingan, Chestnut sempat mengungkapkan ambisinya untuk "meng-upgrade" performanya, menargetkan angka di pertengahan 20-an pon, bahkan mendekati rekor pribadinya 28 pon yang ia torehkan pada 2019. "Akan menyenangkan jika bisa mencapai 28 pon," ujarnya kepada Toronto Sun, seolah ia sedang mencoba memecahkan ‘high score’ miliknya sendiri. Ini bukan hanya tentang menang, tapi tentang terus mendorong batas kemampuan, layaknya seorang gamer yang selalu ingin mencapai ‘tier’ tertinggi.
Layaknya setiap pertandingan eSports yang dipengaruhi ‘meta’ dan kondisi arena, Chestnut juga menyoroti faktor lingkungan. Suhu di Toronto saat itu sekitar 20C (68 Fahrenheit). Menurutnya, suhu dingin bisa menjadi ‘nerf’ yang signifikan. "Jika lebih dingin, saus gravy akan mengental, dan kentang goreng dingin tidak akan mudah ditelan," jelasnya. "Itu akan menurunkan angka." Ini menunjukkan bahwa strategi dan adaptasi terhadap ‘map’ sangat krusial, bahkan untuk seorang legenda seperti Chestnut.
Meskipun tidak mencapai target pribadinya, performa Chestnut tetaplah sebuah ‘masterclass’ yang patut diacungi jempol. Ia benar-benar menghancurkan para pesaingnya dalam ‘battle’ keju, saus gravy, dan kentang ini. Ingat, ia pernah melahap 26,5 pon di event yang sama pada tahun 2025, dan rekor dunia poutine-nya yang fantastis, 28 pon pada tahun 2019, masih kokoh tak tergoyahkan. Ini membuktikan bahwa bahkan di bawah target pribadinya, ‘skill set’ Chestnut masih terlalu OP (overpowered) untuk kompetitor lain.
Kemenangan di Toronto ini bukan hanya tentang gelar, tapi juga ‘loot’ sebesar $9.500 yang berhasil ia kantongi. Ini hanyalah sebagian kecil dari ‘harta karun’ yang telah dikumpulkan sang raja, termasuk 18 gelar Nathan’s Famous dan 55 rekor dunia di sirkuit kompetisi makan. Pertanyaannya sekarang, apakah ada ‘player’ baru yang akan muncul dan menantang dominasi absolutnya di masa depan? Atau akankah Joey Chestnut terus ‘farming’ rekor dan gelar hingga tak ada yang bisa mendekati ‘high score’ miliknya, mengukuhkan dirinya sebagai ‘final boss’ abadi di dunia makan kompetitif?







