Beli CPU Bekas Malah Kena Banned Valorant

Bagoes anwar

Beli CPU Bekas Malah Kena Banned Valorant

Esportivonews.com – Dunia kompetitif Valorant kembali diguncang oleh sebuah klaim mengejutkan yang melibatkan sistem keamanan anti-cheat milik Riot Games, Vanguard. Seorang pemain asal Jerman baru-baru ini melaporkan pengalaman buruk yang sangat merugikan setelah ia memutuskan untuk melakukan upgrade perangkat keras dengan membeli komponen bekas. Bukannya mendapatkan performa lebih kencang, pemain tersebut justru langsung terkena blokir permanen saat mencoba menjalankan gim tersebut.

Kejadian ini bermula ketika pengguna Reddit dengan nama After-Cartoonist-196 mengunggah keluhannya di forum PCBaumeister. Ia menceritakan bahwa dirinya baru saja membeli prosesor Ryzen 7 5800X3D bekas pada akhir September lalu. Sebelumnya, ia tidak memiliki masalah sama sekali saat bermain Valorant menggunakan prosesor lama miliknya. Namun, sesaat setelah ia memasang CPU baru tersebut dan mencoba membuka gim, sistem Vanguard langsung mendeteksi pelanggaran dan menutup akses permainannya secara otomatis.

Beli CPU Bekas Malah Kena Banned Valorant
Gambar Istimewa : www.dexerto.com

Melalui laporan tersebut, sang pemain mengklaim telah menghubungi pihak dukungan pelanggan Riot Games. Hasilnya sangat mengecewakan; pihak Riot diduga menyatakan bahwa nomor seri CPU yang baru dibelinya tersebut sudah masuk dalam daftar hitam (blacklist) Vanguard. Berdasarkan informasi yang diterima pemain tersebut, perangkat itu telah terkena hukuman hardware ban sejak 12 Agustus karena pemilik sebelumnya diduga melakukan kecurangan atau menggunakan program ilegal dalam gim.

Kabar yang lebih buruk lagi, pemain tersebut mengklaim bahwa pihak dukungan Riot juga menyebutkan bahwa motherboard dan media penyimpanan (storage) miliknya kini ikut ditandai oleh sistem. Hal ini membuat sang pemain merasa terjebak dalam situasi yang mustahil untuk diperbaiki, karena ia tidak mungkin mengetahui riwayat penggunaan sebuah komponen elektronik sebelum membelinya.

Menanggapi kegaduhan ini, Phillip Koskinas, Direktur Anti-Cheat Riot Games, memberikan pernyataan yang sedikit berbeda melalui platform X. Koskinas menyatakan bahwa ia kesulitan menemukan tiket laporan dukungan yang sesuai dengan detail yang disampaikan oleh pemain tersebut. Ia menilai klaim tersebut "agak tidak mungkin" terjadi. Menurutnya, hukuman hardware ban dari Riot biasanya hanya berlaku maksimal selama empat bulan dan hanya spesifik pada gim tempat kecurangan terjadi. Selain itu, ia membantah keras bahwa Vanguard akan langsung memblokir seluruh komponen PC hanya karena satu bagian yang terdeteksi bermasalah.

Meski terdapat perbedaan versi antara klaim pemain dan pernyataan resmi Riot, insiden ini membuka celah ketakutan baru di kalangan komunitas PC gamer. Masalah utamanya adalah tidak adanya cara bagi pembeli barang bekas untuk memverifikasi apakah sebuah komponen "bersih" dari catatan kecurangan atau tidak. Jika klaim pemain tersebut benar, maka membeli komponen bekas bisa menjadi perjudian yang sangat mahal bagi para pemain Valorant.

Kasus ini menambah daftar panjang kekhawatiran pemain terhadap agresivitas sistem Vanguard. Sebelumnya, pada bulan Mei lalu, Riot juga sempat menghadapi gelombang protes dari komunitas setelah sistem anti-cheat mereka dianggap terlalu berisiko karena memiliki kemampuan untuk memblokir perangkat keras secara luas. Hingga saat ini, para pemain tetap dihantui risiko menjadi korban "salah sasaran" akibat jejak digital dari pemilik perangkat sebelumnya.

Baca Juga

gnews

Tags

Tinggalkan komentar