eSportivo Fortnite – Pertarungan sengit di ranah hukum kembali memanas, kali ini bukan di arena virtual Battle Royale, melainkan di pengadilan nyata! Seorang ayah di Tiongkok melancarkan gugatan simbolis senilai hanya $1.50 (sekitar Rp 22.000) terhadap empat raksasa industri game. Bukan karena ingin kaya mendadak, melainkan karena ia mengklaim sistem anti-kecanduan mereka gagal total dalam menghentikan putranya dari bermain game secara berlebihan. Ini bukan sekadar angka, ini adalah pernyataan keras yang mengguncang fondasi industri!
Pria yang diidentifikasi dengan nama keluarga Qin ini, mengajukan tuntutan hukum terhadap Tencent, NetEase, miHoYo, dan 37 Interactive Entertainment di Tanghe County, provinsi Henan. Menurut laporan dari South China Morning Post, Qin hanya menuntut 10 yuan sebagai kompensasi. Namun, ia menegaskan bahwa gugatan ini jauh dari urusan uang. Lalu, apa misi sebenarnya di balik langkah berani ini?

Qin berharap pengadilan akan memaksa perusahaan game untuk benar-benar menegakkan aturan yang dirancang untuk mencegah anak di bawah umur kecanduan. Ia menceritakan bagaimana putranya menghabiskan waktu bertahun-tahun bermain game online, seringkali terjaga hingga pukul 3 atau 4 pagi selama akhir pekan di rumah. Data dari salah satu akun game bahkan menunjukkan putranya telah bermain selama 1.868 jam sejak Maret 2024, dengan rata-rata 2,44 jam per hari. Sebuah statistik yang membuat para pro player pun mungkin terkejut!
Yang lebih mencengangkan, remaja tersebut diduga berhasil melewati batasan usia dengan mendaftarkan akun menggunakan identitas kakak perempuannya yang sudah dewasa. Sebuah exploit sistem yang kini menjadi sorotan tajam.
Seruan Ayah untuk Perlindungan Gaming yang Lebih Ketat
Gugatan ini diajukan sekitar satu bulan setelah putra Qin, yang genap berusia 18 tahun pada awal 2026, menelan 18 pil penurun demam pada 23 Mei. Ia kemudian jatuh sakit parah, pingsan, dan dilarikan ke rumah sakit, di mana ia didiagnosis keracunan obat. Beruntung, ia pulih setelah perawatan intensif.
Namun, sang remaja belum mengungkapkan kepada keluarganya mengapa ia mengambil obat tersebut. Qin percaya insiden ini mungkin terkait dengan kebiasaan bermain game putranya, meskipun hal tersebut belum dikonfirmasi secara resmi. Misteri di balik insiden pil ini masih menyelimuti kasus, memunculkan pertanyaan besar: apakah ini benar-benar terkait dengan dunia game, atau ada faktor lain yang tersembunyi?
Tiongkok sendiri telah memperkenalkan batasan ketat untuk bermain game bagi anak di bawah umur sejak tahun 2021. Berdasarkan peraturan negara tersebut, anak-anak hanya diizinkan bermain game online antara pukul 8 pagi hingga 9 pagi pada hari Jumat, akhir pekan, dan hari libur resmi. Sebuah timer yang sangat ketat bagi para gamer muda.
Kasus Qin awalnya dijadwalkan untuk disidangkan pada 6 Juli, tetapi prosesnya ditunda setelah beberapa perusahaan menantang yurisdiksi pengadilan. Belum ada tanggal sidang baru yang diumumkan. Apakah ini taktik untuk menunda "damage" yang mungkin timbul, atau memang ada celah hukum yang valid?
Ini bukan kali pertama perusahaan game menghadapi gugatan serupa. Kembali pada tahun 2023, seorang ibu di Arkansas menggugat raksasa video game seperti Activision Blizzard, EA, Epic Games, Microsoft, dan Ubisoft atas kerugian yang disebabkan oleh kecanduan game putranya. Dalam kasus lain yang tak kalah liar, seorang gamer muda menggugat Nintendo karena microtransaction "tidak bermoral" di Mario Kart Tour setelah secara tidak sengaja menggunakan kartu kredit ayahnya.
Kasus Qin ini, yang dilaporkan oleh esportivonews.com, menambah daftar panjang pertempuran hukum antara orang tua dan industri game. Apakah gugatan ini akan menjadi ‘game-changer’ bagi regulasi industri game global, atau hanya sekadar misi sampingan yang tertunda? Hanya waktu yang akan menjawab. Para player di seluruh dunia pasti akan mengamati perkembangan ‘match’ ini dengan seksama.







