Esportivonews.com – Dunia industri game indie kembali diguncang oleh isu ketidakadilan di platform distribusi terbesar dunia, Steam. Sebuah penerbit game independen, 2 Left Thumbs, melontarkan kritik tajam terhadap Valve setelah peluncuran produk terbaru mereka berakhir dengan kegagalan yang sangat menyakitkan. Meski telah mengantongi lebih dari 11.000 daftar keinginan (wishlist) dari calon pemain, game bertajuk Wheel Make It justru hanya mampu menarik perhatian 15 pemain saat pertama kali dirilis.
Fenomena ini memicu kemarahan pengembang yang menuding bahwa platform Steam kini tengah dibanjiri oleh "sampah AI" atau AI-slop. Menurut mereka, gelombang game yang dibuat secara instan menggunakan kecerdasan buatan telah mengacaukan sistem peninjauan (review queue) di Steam, yang pada akhirnya merugikan pengembang kecil yang bekerja dengan dedikasi tinggi.

Wheel Make It, yang dikembangkan oleh tlproductions, sebenarnya adalah sebuah game berbasis fisika yang unik. Dalam permainan ini, dua pemain harus bekerja sama mengendalikan roda sebuah kursi roda untuk melewati berbagai rintangan. Sayangnya, perjalanan menuju perilisan tidak berjalan mulus. Awalnya, game ini dijadwalkan rilis pada 12 Oktober, namun mengalami penundaan akibat kendala teknis dalam proses peninjauan oleh pihak Steam.
Pihak pengembang menjelaskan bahwa peninjau Steam mengalami kesulitan mengakses mode local co-op dalam game tersebut. Padahal, mekanisme permainannya sangat sederhana, yakni hanya dengan berbagi satu papan ketik (keyboard) yang sama. Akibat hambatan birokrasi digital ini, jadwal rilis mundur hingga ke tanggal 1 November.
Kekecewaan mendalam muncul ketika angka statistik menunjukkan realitas yang pahit. Melalui unggahan di platform X, pihak 2 Left Thumbs mengungkapkan bahwa mereka sebelumnya telah mendapatkan jaminan dari Steam bahwa keterlambatan rilis akibat antrean peninjauan yang membeludak tidak akan memengaruhi visibilitas game saat diluncurkan. Namun, kenyataan di lapangan berkata lain. Dengan modal 11.000 wishlist, angka pemain aktif yang mencapai puncaknya hanya berjumlah 15 orang dalam 24 jam pertama.
"Kami dijanjikan bahwa melewatkan tanggal peluncuran akibat gelombang sampah AI yang menghancurkan antrean peninjauan tidak akan memengaruhi mekanisme visibilitas peluncuran kami. Tapi saya sangat tidak setuju," tulis pihak penerbit dengan nada kecewa.
Masalah ini bukanlah isu baru. Data menunjukkan adanya lonjakan drastis penggunaan AI dalam pembuatan game di Steam. Analisis terhadap sekitar 63.600 rilis menunjukkan bahwa hampir 50 persen game yang diluncurkan pada Oktober 2026 mengungkapkan penggunaan AI, sebuah angka yang melonjak tajam dibandingkan hanya 1,7 persen pada awal 2024.
Hingga saat ini, pihak Valve belum memberikan pernyataan resmi terkait tuduhan bahwa kiriman game berbasis AI menjadi penyebab utama macetnya proses peninjauan. Namun, bagi para pengembang indie, situasi ini menjadi alarm keras mengenai masa depan ekosistem digital jika platform besar tidak segera bertindak tegas terhadap konten berkualitas rendah yang diproduksi secara massal oleh mesin.







