Esportivonews.com – Dunia teknologi sedang dihebohkan oleh sebuah insiden unik sekaligus kontroversial di Philadelphia, Amerika Serikat. Seorang wanita dilaporkan ditangkap oleh pihak berwenang setelah melakukan aksi protes yang tidak biasa, yakni dengan sengaja menghalangi jalan robot pengantar makanan milik Uber Eats. Aksi ini merupakan bagian dari gerakan penolakan terhadap penggunaan teknologi otonom di ruang publik.
Sejak Maret 2026, Uber Eats telah resmi memperkenalkan robot pengantar makanan mandiri di Philadelphia. Melalui kerja sama dengan perusahaan robotika Avride, teknologi ini dirancang untuk mengantarkan pesanan makanan melalui jalanan kota secara otomatis. Namun, kehadiran teknologi ini ternyata tidak disambut hangat oleh seluruh lapisan masyarakat. Banyak warga merasa khawatir akan masalah keamanan pejalan kaki, privasi, hingga potensi hilangnya lapangan pekerjaan bagi kurir manusia.

Salah satu sosok yang paling vokal menentang kehadiran teknologi ini adalah Carolyn Marvin. Wanita yang merupakan pensiunan profesor dari University of Pennsylvania ini telah menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk melakukan aksi protes dengan cara berdiri tepat di depan robot-robot tersebut.
Ketegangan memuncak pada tanggal 14 Oktober lalu. Saat sedang dalam perjalanan pulang setelah melakukan vaksinasi flu, Marvin berpapasan dengan sebuah robot Uber Eats di dekat Reading Terminal Market. Alih-alih memberi jalan, ia justru sengaja berdiri di jalur robot tersebut hingga kerumunan warga mulai berkumpul dan polisi pun dipanggil ke lokasi kejadian.
Pihak Kepolisian Philadelphia yang tiba di lokasi segera menangani insiden yang dianggap sebagai gangguan kriminal tersebut. Petugas telah memberikan perintah berulang kali agar Marvin menjauh dari jalur robot, namun ia tetap bersikeras untuk tidak bergeming. Akibat pembangkangan tersebut, Marvin akhirnya dijatuhi sanksi atas pelanggaran ketertiban umum (disorderly conduct).
Dalam sebuah pernyataan yang dikutip dari laporan media, Marvin mengungkapkan alasan di balik aksinya. Ia merasa bahwa hak-hak manusia seharusnya lebih diutamakan dibandingkan hak mesin. Menariknya, menurut hukum di Pennsylvania, robot pengantar otonom diklasifikasikan sebagai pejalan kaki, yang memberikan mereka hak tertentu untuk menggunakan trotoar, meskipun mereka tetap wajib mengalah jika berpapasan dengan manusia.
Marvin menganggap bahwa dampak dari aksinya sangatlah minim. Ia berpendapat bahwa konsekuensi terburuk dari tindakannya hanyalah keterlambatan pengantaran makan siang seorang pekerja kantor sekitar 15 menit saja. Ia juga menegaskan bahwa ia hanya melakukan aksi ini jika memiliki waktu luang, karena ia masih memiliki kehidupan pribadi yang harus dijalani.
Bagi Marvin, aksi ini adalah bentuk perjuangan hak konstitusional untuk memprotes dominasi korporasi di ruang publik. Ia merasa perlu melakukan aksi nyata agar pemerintah mendengar aspirasi masyarakat terkait penggunaan teknologi yang mulai mengambil alih ruang publik. Hingga saat ini, Marvin menyatakan tidak akan berhenti dan akan terus melanjutkan kampanyenya menghalangi robot-robot tersebut.







