Esportivonews.com – Dunia industri video game dikejutkan dengan kabar duka yang datang dari raksasa Electronic Arts (EA). Studio legendaris, BioWare, yang telah menjadi rumah bagi berbagai judul RPG ikonik selama lebih dekap tiga dekade, resmi dinyatakan tutup. Keputusan drastis ini merupakan bagian dari gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran yang dilakukan oleh EA.
Langkah pahit ini tidak hanya mengakhiri eksistensi BioWare, tetapi juga menghentikan pengembangan proyek ambisius yang sangat dinantikan penggemar, yakni seri terbaru Mass Effect. Proyek tersebut kabarnya masih dalam tahap pengembangan awal sebelum akhirnya dibatalkan sepenuhnya oleh pihak manajemen.

Berdasarkan laporan yang dihimpun, langkah restrukturisasi ini berdampak pada sekitar 400 karyawan secara keseluruhan, di mana sekitar 50 di antaranya merupakan staf dari BioWare. Secara persentase, pemangkasan ini mencakup sekitar 3% dari total tenaga kerja EA di seluruh dunia. Keputusan ini diambil hanya berselang dua bulan setelah EA bertransformasi menjadi perusahaan privat menyusul aksi leveraged buyout senilai $55 miliar yang dipimpin oleh dana investasi Arab Saudi.
Melalui surat resmi kepada karyawan pada 21 Oktober lalu, Chief Operating Officer EA, David Tinson, bersama Chief Studios Officer, Cam Weber, menjelaskan bahwa perusahaan sedang melakukan peninjauan mendalam terhadap model bisnis mereka. Restrukturisasi ini bertujuan untuk menyelaraskan talenta dan investasi pada area yang dianggap memiliki potensi pertumbuhan jangka panjang yang paling besar.
Dalam pernyataan emosionalnya melalui platform X, pihak BioWare mengungkapkan rasa berat hati mereka. "Selama lebih dari 30 tahun, BioWare bukan sekadar studio. Ini adalah rumah bagi para pencerita, pengembang, dan pemain yang telah menghidupkan dunia kami. Kini, setelah petualangan bersama selama tiga dekade, BioWare harus tutup dan pengembangan awal proyek Mass Effect berikutnya berakhir," tulis pernyataan resmi tersebut.
BioWare didirikan pada tahun 1995 dan sempat diakuisisi oleh EA pada tahun 2007. Studio ini membangun reputasi emasnya melalui genre role-playing game (RPG) melalui seri legendaris seperti Mass Effect dan Dragon Age. Namun, performa studio ini mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah peluncuran Mass Effect: Andromeda dan Anthem yang menuai kritik tajam dari komunitas. Kegagalan mencapai target penjualan pada judul terbaru mereka, Dragon Age: The Veilguard yang dirilis tahun 2024, disinyalir menjadi salah satu pemicu utama pemangkasan staf besar-besaran ini.
Di sisi lain, EA menegaskan bahwa mereka tetap akan fokus pada waralaba besar lainnya. Meskipun beberapa proyek seperti Project Lotus (bagian dari seri The Sims) dibatalkan, EA tetap akan menginvestasikan sumber daya pada judul-judul kuat seperti seri EA Sports, Apex Legends, Battlefield, serta proyek bertema Star Wars Jedi dan Iron Man. Selain itu, kolaborasi antara Respawn Entertainment dan DICE untuk proyek baru yang diduga kuat merupakan bagian dari seri Star Wars Battlefront juga tetap berjalan.
Hingga saat ini, belum ada kejelasan mengenai nasib jangka panjang dari waralaba Mass Effect dan Dragon Age setelah penutupan studio legendaris ini. Bagi para penggemar, ini menjadi akhir dari sebuah era emas dalam sejarah narasi video game dunia.







