Esportivonews.com – Sebuah skandal keamanan siber yang sangat memalukan baru saja mengguncang Denmark. Hanya dengan menggunakan kombinasi angka yang sangat sederhana, yakni "123456", seorang peretas berhasil membobol sistem perusahaan IT dan mengakses data pribadi milik jutaan warga negara Denmark. Insiden ini menjadi pengingat keras bagi dunia industri teknologi mengenai betapa fatalnya kelalaian dalam manajemen keamanan data.
Peretasan ini menyasar Pays ApS, sebuah perusahaan layanan data dan IT yang memiliki akses resmi ke Central Register of Persons (CPR) atau daftar kependudukan nasional di Denmark. Berdasarkan laporan yang dihimpun, peretas berhasil mengeksploitasi akses sah milik perusahaan tersebut untuk mengambil berbagai informasi sensitif. Data yang dicuri mencakup nama lengkap, alamat tempat tinggal, hingga nomor identitas pribadi milik warga.

Pihak berwenang di Denmark telah mengonfirmasi bahwa telah terjadi penyalahgunaan akses yang seharusnya digunakan untuk kepentingan administratif resmi. Perusahaan Pays ApS sendiri akhirnya mengakui bahwa sistem mereka telah ditembus oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Kelalaian Fatal Akibat Password Lemah
Berdasarkan pengakuan pelaku yang disampaikan kepada surat kabar Denmark, Politiken, pintu masuk menuju sistem tersebut ternyata sangat mudah dibuka. Pelaku mengaku bahwa ia berhasil masuk melalui sebuah akun yang hanya dilindungi oleh kata sandi "123456". Lebih mengejutkan lagi, laporan tersebut menyebutkan bahwa setidaknya ada tiga akun perusahaan, termasuk satu akun administrator, yang menggunakan kata sandi sangat lemah tersebut.
Analisis dari Malwarebytes menunjukkan bahwa akses awal ini diduga berasal dari kebocoran kata sandi milik mantan karyawan Pays. Perusahaan ini sebenarnya menyediakan layanan bagi pelanggan untuk mencocokkan catatan mereka dengan data CPR, seperti memperbarui alamat atau mengidentifikasi warga yang telah meninggal dunia.
Data yang berhasil dicuri sangat masif. Dokumen yang diperoleh oleh penyiar TV 2 Denmark menunjukkan bahwa peretas mulai masuk ke sistem pada tanggal 10 September dan melakukan sekitar 14 juta pencarian otomatis hingga tanggal 20 September. Aktivitas mencurigakan ini baru terdeteksi pada 2 Oktober setelah munculnya tagihan dengan lonjakan aktivitas yang tidak wajar.
Dampak Luas bagi Warga Denmark
Total data yang terdampak diperkirakan mencapai 8,8 juta catatan. Dari jumlah tersebut, sekitar 5,5 juta adalah data warga yang masih hidup, sementara 3,3 juta lainnya adalah data warga yang telah meninggal dunia. Meskipun demikian, administrasi CPR menyatakan bahwa data warga yang memiliki perlindungan nama dan alamat khusus tetap aman dan tidak terpapar dalam insiden ini.
Sebagai langkah tindak lanjut, otoritas terkait telah menghentikan akses perusahaan Pays ke sistem kependudukan nasional. Pihak kepolisian kini tengah melakukan penyelidikan mendalam terkait kasus ini. Insiden ini menambah daftar panjang pelanggaran keamanan data global, menyusul kasus penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk membobol agensi pemerintah di Meksiko beberapa waktu lalu. Kasus ini menjadi peringatan keras bahwa secanggih apa pun sebuah sistem, ia akan tetap rapuh jika faktor manusia dan keamanan dasar seperti kata sandi diabaikan.







