Masa Depan Game Fisik Terancam Punah

Bagoes anwar

Masa Depan Game Fisik Terancam Punah

Esportivonews.com – Tren industri video game yang kini semakin bergeser ke arah digital mulai menuai kritik tajam dari kalangan veteran industri. Shawn Layden, mantan petinggi PlayStation yang pernah menjabat sebagai Chairman PlayStation Worldwide Studios sekaligus CEO Sony Interactive Entertainment America, memberikan peringatan keras mengenai hilangnya format fisik dalam dunia gaming.

Layden menyoroti fenomena di mana perusahaan-perusahaan besar mulai meninggalkan rilisan berbasis cakram (disc) demi mengejar efisiensi distribusi digital. Menurutnya, langkah ini bukan sekadar perubahan teknologi, melainkan ancaman serius terhadap hak kepemilikan pemain atas produk yang telah mereka beli.

Masa Depan Game Fisik Terancam Punah
Gambar Istimewa : www.dexerto.com

Dalam sebuah diskusi di podcast The Expansion Pass, Layden mengungkapkan kekhawatirannya terkait arah kebijakan perusahaan seperti Sony yang mulai memprioritaskan format digital. Meski ia tidak mengetahui secara pasti alasan di balik keputusan strategis tersebut, ia menduga hal ini adalah keputusan yang murni didasarkan pada hitungan angka di atas kertas atau profitabilitas semata.

"Mengunduh game memang jauh lebih praktis daripada harus beranjak dari sofa hanya untuk memasukkan cakram ke mesin. Cukup tekan satu tombol di kontroler dan Anda tidak perlu bergerak," ujar Layden saat mengakui sisi kenyamanan digital. Namun, ia menegaskan bahwa kenyamanan tersebut memiliki harga yang mahal.

Layden berpendapat bahwa meskipun kelompok pembeli format fisik mungkin hanya mewakili sebagian kecil dari total pasar, mereka adalah kelompok yang sangat krusial. Ia menyebut mereka sebagai "kelompok yang paling setia". Para kolektor ini sering kali membeli dua salinan untuk setiap judul game—satu untuk dipajang dalam kondisi tersegel sebagai koleksi, dan satu lagi untuk dimainkan.

Ia mengibaratkan komunitas gamer dengan penggemar komik yang memiliki naluri kolektor yang kuat. "Kita adalah orang-orang yang memiliki rasa ingin tahu tinggi dan senang memamerkan koleksi kita," tambahnya.

Lebih jauh lagi, Layden menyoroti isu yang lebih mendalam dan "berbahaya", yakni mengenai konsep kepemilikan. Ia memperingatkan bahwa transisi total ke digital mengubah status pemain dari seorang "pemilik" menjadi sekadar "pengguna akses".

"Jika Anda tidak bisa menjual kembali barang tersebut, itu artinya Anda tidak benar-benar memilikinya. Jika Anda tidak memilikinya, lalu apa yang sebenarnya Anda beli? Jika Anda hanya membeli akses, itu terdengar tidak terlalu menarik," tegas Layden.

Menurutnya, jika perusahaan terus memaksakan penghapusan format fisik, hal ini akan berdampak buruk pada reputasi merek mereka di mata konsumen. Para pemain kini mulai mengambil sikap tegas dengan slogan "tidak ada cakram, tidak beli" sebagai bentuk protes terhadap dominasi digital yang dianggap merugikan hak konsumen jangka panjang.

Baca Juga

gnews

Tags

Tinggalkan komentar