eSportivo Fortnite – Para pemain League of Legends dan VALORANT, bersiaplah! Riot Games baru-baru ini melancarkan serangan besar-besaran terhadap para manipulator rank, menghajar hampir 300.000 akun yang terbukti melakukan kecurangan. Ini bukan sekadar peringatan, melainkan gelombang ban yang mengguncang komunitas esports dan menegaskan komitmen Riot terhadap fair play. Apakah ini pertanda era baru kompetisi yang lebih bersih?
Pengumuman mengejutkan ini datang setelah sistem Anti-Boost League of Legends yang diluncurkan pada tahun 2025, akhirnya merambah ke VALORANT pada bulan Juli lalu. Intinya, sistem Vanguard yang canggih telah dilatih untuk mendeteksi akun-akun yang progres rank-nya tidak murni hasil jerih payah sendiri, melainkan "disumbangkan" oleh pemain yang lebih jago. Sejak saat itu, ban demi ban terus berjatuhan, menciptakan efek domino yang masif.

Pada tanggal 17 September, Riot Games secara resmi mengonfirmasi bahwa total 296.416 akun telah dijatuhi sanksi di kedua game tersebut sejak akhir tahun 2025. Angka ini jelas bukan main-main dan menunjukkan betapa seriusnya Riot dalam menjaga integritas sistem rank mereka.
Namun, jangan salah sangka, tidak semua sanksi berakhir dengan ban permanen. Tergantung pada tingkat pelanggarannya, Riot memiliki berbagai opsi hukuman. Mulai dari penurunan rank, pencabutan hadiah musiman yang sudah didapat, hingga suspensi sementara yang dimulai dari tiga hari dan akan terus meningkat bagi para pelanggar berulang. Tapi bagi akun yang dibeli atau tidak memiliki pemilik sah, siap-siap saja mengucapkan selamat tinggal karena penghapusan permanen adalah harga mati. Dan yang paling menarik, pihak Riot juga menyatakan bahwa sistem ini belum beroperasi dengan kapasitas penuh! Jadi, bisa dibayangkan, lebih banyak lagi penegakan akan menyusul di masa depan. Siapa lagi yang akan jadi target selanjutnya?
Perilaku yang memicu sanksi ini ternyata jauh lebih luas dari sekadar menyerahkan akun kepada joki bayaran. Membeli atau meminjam akun untuk menghadapi lawan yang lebih lemah, memberikan akun dengan rank rendah kepada teman yang jago, atau bahkan sengaja bermain bersama pemain yang dengan sengaja menurunkan rank mereka demi keuntungan tertentu, semuanya masuk dalam daftar hitam Riot. Ini benar-benar upaya menyeluruh untuk membasmi segala bentuk manipulasi.
Drama ini semakin memanas ketika Trainwrecks, streamer ternama, muncul sehari setelah pengumuman Riot untuk mengklaim bahwa rank League of Legends-nya telah dikembalikan ke posisi semula. Ia menduga hal itu terjadi karena ia sering bermain bersama pro player seperti Tyler1, Trick2g, dan Yassuo. "Saya tidak mengerti bagaimana ini mungkin," ujarnya dalam siaran langsung terbarunya. "Kami bermain di stream, kami hanya bermain untuk bersenang-senang. Bukan salah saya kalau mereka semua adalah pemain League pro." Trainwrecks berencana menghubungi Riot sebelum membawa perselisihan ini ke publik. Apakah ini hanya salah paham, atau ada cerita lain di baliknya?
Ini bukan kali pertama Trainwrecks berhadapan dengan Riot terkait masalah serupa. Sebelumnya, ia pernah menerima ban VALORANT selama 31 hari pada bulan Mei karena bermain bersama sinatraa dan pemain rank tinggi lainnya. Saat itu, seorang developer Riot kemudian mengklarifikasi bahwa memang ada akun smurf asli di lobi tersebut, sebuah detail yang mengubah gambaran secara signifikan. Kasus Trainwrecks kali ini tentu akan menjadi sorotan, dan bagaimana Riot menanganinya akan menjadi penentu penting bagi kepercayaan komunitas. Akankah Riot memberikan penjelasan lebih lanjut, ataukah para pemain harus lebih berhati-hati lagi dalam memilih teman mabar? Hanya waktu yang akan menjawabnya! Ikuti terus kabar terbaru dari esportivonews.com untuk update selanjutnya!







