eSportivo Fortnite – Siapa sih yang enggak kenal Rockstar Games? Nama ini mungkin langsung bikin kamu mikir Grand Theft Auto atau Red Dead Redemption. Tapi, hold up, para gamer sejati! Sejarah Rockstar itu jauh lebih dalam dan mind-blowing dari sekadar baku tembak di kota atau petualangan koboi. Berawal dari akuisisi BMG Interactive oleh Take-Two Interactive di tahun 1998, akar Rockstar sebenarnya merentang sampai ke DMA Design, studio legendaris Skotlandia yang lahir di era 80-an. Bayangin, studio yang sama yang ngasih kita game puzzle klasik Lemmings dan sci-fi shooter Menace sebelum GTA meledak! Ini bukti kalau DNA Rockstar itu bukan cuma soal nyolong mobil dan bikin kekacauan di open world.
Studio ini pernah bikin kita terkejut dengan merilis simulator tenis meja setelah GTA: San Andreas, lho! Mereka yang jago meracik epik kriminal juga sukses menghadirkan adaptasi film kultus brutal The Warriors, satir dunia sekolah Bully, dan salah satu kisah detektif paling atmosferik di dunia gaming, L.A. Noire, yang sebentar lagi merayakan ulang tahun ke-15 pada 17 Mei 2026.

Meski begitu, kecuali game tenis meja itu, kamu pasti bisa langsung mengenali "rasa" khas game Rockstar. Mirip film-film Quentin Tarantino, ada vibe yang sama: soundtrack yang enggak terlupakan, satir yang tajam menusuk, penceritaan sinematik kelas atas, dan karakter-karakter yang lebih besar dari kehidupan. Siap-siap, karena esportivonews.com bakal ngasih kamu tier list 15 game terbaik dari Rockstar yang wajib banget kamu tahu, bahkan mungkin kamu replay!
15. Rockstar Games Presents Table Tennis
Tentang Apa: Lupakan game tenis meja santai. Ini adalah simulasi serius yang menuntut skill dan presisi tingkat tinggi! Pemain beradu satu lawan satu dalam pertandingan cepat yang mengandalkan timing, spin, posisi, dan reaksi kilat. Enggak ada cerita underdog ala film Hollywood di sini, dan daftar pemainnya fiktif. Fokusnya murni pada mastery game, mengembalikan pukulan, mengontrol reli, dan mengakali lawan dengan sudut dan spin yang mematikan.
Kenapa Kami Suka: Siapa sangka, Rockstar yang jago bikin kekacauan open-world, justru melepas simulasi tenis meja yang serius abis! Ini bukan game pingpong santai ala Wii Sports, bro. Di sini, setiap pukulan, timing, spin, dan posisi itu krusial banget, mirip banget sama presisi yang kamu butuhin buat clutch play di late game Fortnite. Game ini bener-bener nguji skill mekanik kamu, memaksa kamu mikir strategi buat nge-outsmart lawan. Rasakan sensasi epic saat smash forehand kamu menembus pertahanan lawan, serasa dapet Victory Royale! Dan ini semua, ternyata jadi ajang pemanasan buat engine RAGE yang legendaris itu. Gila, kan? Sebuah masterclass dalam detail yang sering diremehkan!
14. Midnight Club 3: DUB Edition
Tentang Apa: Game balap jalanan arcade yang bikin adrenalin kamu meledak! Pemain ngebut di kota-kota besar seperti San Diego, Atlanta, dan Detroit, sambil membangun reputasi sebagai pembalap tercepat. Balapan berlangsung di jalanan terbuka yang padat lalu lintas, penuh jalan pintas, tikungan tajam, pembalap rival, dan sesekali kejaran polisi. Uang kemenangan bisa kamu belanjakan untuk mobil dan motor berlisensi, upgrade performa, dan modifikasi kosmetik yang makin gila.
Kenapa Kami Suka:Midnight Club itu persis seperti yang kamu harapkan dari game balap buatan Rockstar: cepat, brutal, dan penuh gaya! Setiap balapan adalah thrill ride yang penuh bahaya, meliuk-liuk di antara lalu lintas padat, tikungan buta, dan rival yang agresif. DUB Edition adalah puncaknya, berkat kolaborasi dengan DUB Magazine yang bikin game ini punya vibe pertengahan 2000-an yang kuat: chrome spinning rims, neon underglow, sistem suara menggelegar, dan SUV segede rumah. Tapi yang paling penting, game ini fun banget dimainkan! Menemukan jalan pintas rahasia, ngebut gila-gilaan, dan melibas lawan dengan nitrous di garis finis bikin setiap balapan terasa chaotic tapi dalam artian terbaik.
13. Max Payne 2: The Fall of Max Payne
Tentang Apa: Sekuel dari Max Payne ini kembali menampilkan detektif bermasalah Max yang terseret ke dunia pembunuhan, konspirasi, dan kekerasan mafia saat menyelidiki serangkaian pembunuhan di New York City. Dalam perjalanannya, ia bertemu kembali dengan pembunuh bayaran Mona Sax, yang mengarah ke cerita noir penuh pengkhianatan, baku tembak, dan narasi suram dari Max sendiri.
Kenapa Kami Suka:Max Payne pertama memperkenalkan bullet time, tapi Max Payne 2 menyempurnakannya jadi sesuatu yang jauh lebih slick dan sinematik. Melompat ke samping dalam slow motion sambil menembak dua pistol, menghantam musuh mundur dengan shotgun, dan melihat asap menggantung di udara setelah baku tembak bikin setiap pertarungan terasa kayak film aksi yang bisa kamu mainkan! Rockstar juga nunjukkin kecintaannya pada film kriminal dan penceritaan noir di sini. Ada nuansa novel detektif, sinema aksi Hong Kong, dan thriller gangster di mana-mana. Mona Sax, khususnya, ngasih kedalaman emosional yang bikin Max Payne 2 beda dari shooter lain. Game ini juga tahu kapan harus berhenti, ceritanya padat dan enggak buang-buang waktu, bikin kamu terus penasaran.
12. Grand Theft Auto: Chinatown Wars
Tentang Apa: Berlatar di Liberty City setelah peristiwa Grand Theft Auto IV, Chinatown Wars mengikuti Huang Lee, putra manja bos Triad yang terbunuh, yang tiba di kota membawa pedang keluarga berharga, hanya untuk terseret ke dalam perang geng, pengkhianatan, dan dunia kriminal. Dimainkan dari perspektif top-down mirip game GTA awal, pemain menyelesaikan misi, menghindari polisi, berdagang narkoba, mencuri mobil, dan bikin kekacauan di Liberty City secara on the go.
Kenapa Kami Suka: Mengembalikan GTA ke perspektif top-down di Nintendo DS itu langkah yang brilian dari Rockstar! Alih-alih cuma mengulang kekacauan game awal, Chinatown Wars nunjukkin seberapa jauh GTA udah berkembang, dengan penulisan yang lebih tajam, misi yang lebih bervariasi, dan Liberty City yang padat gengster, polisi korup, dan kesepakatan gelap. Mekanik touchscreen-nya juga enggak gimmick sama sekali; kamu pakai stylus buat nyalain mobil, nyari senjata di tempat sampah, atau bahkan dagang narkoba! Sistem perdagangan narkoba itu jadi salah satu ide terbaiknya, mengubah Liberty City jadi taman bermain kriminal. Ini bikin Chinatown Wars punya identitas sendiri dan terasa se-esensial versi konsolnya.
11. The Warriors
Tentang Apa: Berdasarkan film kultus tahun 1979 dengan nama yang sama, The Warriors mengikuti geng jalanan New York yang berjuang melintasi kota setelah dituduh membunuh pemimpin geng yang kuat. Pemain mengendalikan berbagai anggota The Warriors saat mereka melawan geng rival, menghindari polisi, merampok toko, merusak properti, dan mati-matian mencoba kembali ke Coney Island hidup-hidup.
Kenapa Kami Suka: Game adaptasi film seringkali punya reputasi buruk, makanya keputusan Rockstar mengubah film kultus 1979 jadi game beat ‘em up di tahun 2005 itu terdengar aneh. Tapi, alih-alih cuma ngulang ceritanya, The Warriors memperluasnya dengan misi baru, backstory tambahan, dan waktu lebih banyak dengan anggota geng yang jarang muncul di film aslinya. Atmosfer New York tahun 70-an juga berhasil ditangkap dengan brilian: stasiun subway kotor, jalanan penuh grafiti, musik funk yang menghentak, dan geng-geng aneh. Pertarungannya juga brutal dan enggak terduga, senjata bisa rusak, geng rival menyerang berkelompok, dan polisi bisa muncul kapan saja. Ini bener-bener nangkep ketegangan dan momentum film aslinya!
10. Grand Theft Auto III
Tentang Apa: Berlatar di Liberty City yang penuh kejahatan, Grand Theft Auto III mengikuti kriminal pendiam Claude setelah ia dikhianati dan ditinggalkan mati saat perampokan bank. Bekerja untuk geng, mafia, pengusaha korup, dan siapa pun yang mau membayar, pemain menyelesaikan misi di kota terbuka sambil mencuri mobil, menghindari polisi, dan secara bertahap naik pangkat di dunia kriminal Liberty City.
Kenapa Kami Suka: Inilah game yang benar-benar mengumumkan Rockstar ke dunia! Game GTA top-down sebelumnya memang kontroversial, tapi GTA III mengubah seri ini jadi sesuatu yang jauh lebih sinematik dan ambisius. Dirilis beberapa tahun setelah Driver membawa kejar-kejaran mobil ala Hollywood ke 3D, GTA III melangkah lebih jauh dengan memberi pemain kebebasan di luar kemudi. Liberty City jadi taman bermain di mana kamu bisa ngabaikan cerita berjam-jam, cuma buat nyolong taksi, dengerin radio, berantem sama geng, kabur dari polisi, atau sekadar melihat seberapa banyak kekacauan yang bisa kamu bikin. Film kriminal seperti Goodfellas sangat memengaruhi tone mafia, misi sinematik, dan humor gelapnya. Tanpa GTA III, game sandbox modern seperti Saints Row atau Watch Dogs mungkin terlihat sangat berbeda. Ini blueprint yang mengubah segalanya!
9. Max Payne 3
Tentang Apa: Bertahun-tahun setelah peristiwa Max Payne 2, Max Payne 3 mengikuti Max yang burnt-out dan sangat bergantung pada obat-obatan saat ia mengambil pekerjaan keamanan pribadi di Sao Paulo, Brasil. Apa yang dimulai sebagai pekerjaan pengawal untuk keluarga kaya segera berubah menjadi penculikan, kekerasan geng, korupsi, dan jejak mayat yang membentang di seluruh kota. Pemain bertarung melalui baku tembak menggunakan bullet time, menyelam di udara dalam slow motion sambil menembak musuh dengan pistol, senapan, dan shotgun.
Kenapa Kami Suka: Rockstar membawa Max Payne keluar dari jalanan noir New York yang bersalju dan menjatuhkannya ke kekacauan Sao Paulo, tapi seri ini sama sekali enggak kehilangan gayanya! Pertarungan bullet time masih jadi bintang utama, dengan musuh terhuyung-huyung saat ditembak, Max menabrak dinding dengan menyakitkan saat menyelam, dan kill shots slow-motion yang dramatis mengubah setiap baku tembak jadi film aksi yang bisa dimainkan. Rockstar juga banyak meminjam dari film Man on Fire karya Tony Scott, menggunakan editing cepat, efek layar terdistorsi, dan baku tembak yang chaotic untuk mencerminkan kondisi mental Max yang semakin rusak. Yang paling penting, Rockstar paham bahwa Max sendiri adalah alasan orang menyukai seri ini. Lebih tua, pahit, dan nyaris enggak bisa menahan diri, dia menghabiskan sebagian besar game mencoba melupakan rasa bersalah dan trauma bertahun-tahun sambil tersandung dari satu bencana ke bencana lain.
8. L.A. Noire
Tentang Apa: Berlatar di Los Angeles tahun 1940-an, L.A. Noire mengikuti petugas LAPD Cole Phelps saat ia naik pangkat menyelidiki pembunuhan, perampokan, serangan pembakaran, dan kejahatan terorganisir. Pemain memeriksa TKP untuk petunjuk, mengejar tersangka di seluruh kota, menginterogasi saksi, dan perlahan mengungkap korupsi di Los Angeles pasca-perang.
Kenapa Kami Suka: Dirilis di tengah dominasi blockbuster open-world Rockstar, L.A. Noire menonjol karena ia memperlambat segalanya. Alih-alih bikin kekacauan, kamu diminta buat mempelajari TKP, menginterogasi tersangka, dan memperhatikan detail. Rockstar dan Team Bondi banyak mengambil inspirasi dari film noir dan fiksi detektif hard-boiled. Sistem interogasi adalah fitur paling menonjol. Menggunakan teknologi animasi wajah yang terlihat astonishing di tahun 2011, kamu harus mempelajari tersangka untuk tanda-tanda kegugupan, kesombongan, atau ketidakjujuran sebelum memutuskan apakah akan memercayai mereka, meragukan mereka, atau langsung menuduh mereka berbohong. Salah langkah bisa mengubah total suasana interogasi! Los Angeles sendiri juga berperan besar dalam daya tarik game ini, direkonstruksi dengan detail luar biasa. Ada sesuatu yang menyegarkan tentang memainkan game Rockstar di mana memecahkan kejahatan lebih penting daripada menyebabkannya.
7. Bully
Tentang Apa: Berlatar di lorong-lorong kacau Bullworth Academy, Bully mengikuti pembuat onar remaja Jimmy Hopkins saat ia menavigasi kehidupan sekolah, bentrok dengan para bully, guru, anak-anak kaya, greaser, dan hampir setiap klik di kampus. Pemain menghadiri kelas, melakukan prank, menjelajahi kota sekitar dengan sepeda atau skateboard, dan secara bertahap mencoba menguasai hierarki sosial sekolah.
Kenapa Kami Suka: Sebelum rilis, Bully jadi salah satu game paling kontroversial Rockstar. Politisi dan media berasumsi pembuat GTA bikin simulator kekerasan sekolah. Padahal, Bully jauh lebih nakal daripada jahat! Rockstar mengganti perang geng dengan bom bau, balapan sepeda, detensi, dan perkelahian di belakang gym, menciptakan sesuatu yang seringkali terasa lebih mirip komedi remaja pemberontak daripada game kriminal. Bullworth Academy sendiri jadi salah satu latar paling berkesan dari Rockstar, penuh dengan nerd, jock, greaser, prefek, dan guru-guru aneh yang semuanya bersaing untuk status sosial. Jimmy memang bukan malaikat, tapi sebagian besar game ini justru tentang melawan bully daripada jadi salah satunya. Entah kamu ngunci teman sekelas di loker, balapan sepeda keliling kota, atau kabur dari prefek, Bully selalu lucu dan super entertaining!
6. Grand Theft Auto IV
Tentang Apa: Berlatar di Liberty City, Grand Theft Auto IV mengikuti imigran Eropa Timur Niko Bellic saat ia tiba di Amerika mengejar janji kehidupan yang lebih baik dan mencari pria yang mengkhianati unit militernya bertahun-tahun sebelumnya. Sebaliknya, ia terseret ke dunia kriminal Liberty City, bekerja untuk gangster, rentenir, pejabat korup, dan kriminal kejam sambil mencoba melindungi sepupunya Roman dan bertahan dari kekacauan di sekitarnya.
Kenapa Kami Suka: Setelah kekacauan kartun Grand Theft Auto: Vice City dan San Andreas, Rockstar kembali ke Liberty City, tapi kali ini semuanya sangat berbeda. Kota terasa lebih padat, kotor, dan jauh lebih realistis. Sebagian besar berkat engine fisika Euphoria yang bikin karakter tersandung saat berkelahi, penumpang terlempar dari kaca depan saat kecelakaan mobil, dan baku tembak jadi enggak terduga karena musuh bereaksi berbeda tergantung di mana mereka terkena tembakan. Di tahun 2008, ini terlihat luar biasa! Niko dan Roman juga jadi salah satu duo paling berkesan dari Rockstar. Ide bisnis Roman yang payah, masalah judi yang konstan, dan telepon tanpa henti yang nanya mau bowling enggak, nambah humor dan kemanusiaan pada cerita yang bisa jadi sangat suram. GTA IV juga menunjukkan Rockstar jadi lebih sinematik dan ambisius sebagai pencerita. Film kriminal seperti The French Connection dan Eastern Promises jelas memengaruhi game ini, sementara Liberty City sendiri jadi salah satu open world terbaik di eranya.
5. Red Dead Redemption
Tentang Apa: Berlatar di hari-hari terakhir perbatasan Amerika, Red Dead Redemption mengikuti mantan penjahat John Marston, yang dipaksa oleh agen pemerintah untuk memburu anggota geng lamanya sebagai ganti kebebasan keluarganya. Pemain berkuda melintasi gurun, kota, pegunungan, dan perbatasan Meksiko sambil terlibat dalam baku tembak, perburuan hadiah, perampokan, permainan poker, dan pertemuan acak di seluruh open world.
Kenapa Kami Suka:Red Dead Redemption mengambil formula open-world Rockstar dan menjatuhkannya ke Wild West, tapi ia enggak pernah terasa seperti "GTA dengan kuda." Ritme yang lebih lambat sangat cocok dengan latarnya. Perjalanan panjang melintasi gurun kosong, bertemu orang asing di jalan, dan tiba di kota berdebu saat matahari terbenam memberi game ini atmosfer yang sama sekali berbeda dari cerita kriminal modern Rockstar. Film western klasik juga sangat memengaruhi game ini. Ada jejak The Good, the Bad and the Ugly, Once Upon a Time in the West, dan The Wild Bunch di mana-mana. Baku tembak jadi sangat memuaskan berkat sistem Dead Eye, memungkinkan pemain memperlambat waktu dan menembak musuh dalam baku tembak western dramatis langsung dari film. John Marston juga jadi salah satu karakter terbaik Rockstar. Enggak seperti banyak kriminal studio, dia benar-benar ingin keluar dari kehidupan yang dia jalani, meskipun kekerasan terus menyeretnya kembali. Humor keringnya dan frustrasinya yang tumbuh terhadap pejabat korup, penipu, dan mantan anggota geng memberi cerita banyak kepribadiannya. Dan kemudian ada ending-nya. Rockstar mengambil risiko besar dengannya, tapi jam-jam terakhir Red Dead Redemption tetap jadi salah satu yang paling emosional dan berkesan dalam sejarah studio.
4. Grand Theft Auto: Vice City
Tentang Apa: Baru keluar dari penjara, Tommy Vercetti tiba di Vice City untuk mengawasi kesepakatan narkoba atas nama keluarga kriminal Forelli. Ketika pertukaran berjalan sangat salah, Tommy terpaksa membangun kerajaan kriminalnya sendiri di seluruh kota, menghadapi geng rival, pengusaha korup, dan siapa pun yang menghalanginya.
Kenapa Kami Suka: Setelah jalanan gelap dan kotor Grand Theft Auto III, Vice City terasa vibrant, stylish, dan benar-benar terobsesi dengan tahun 80-an! Rockstar banyak mengambil inspirasi dari Scarface dan Miami Vice, mengisi kota dengan lampu neon, setelan pastel, musik synth, mobil cepat, dan kriminal yang lebih besar dari kehidupan. Ini juga memberi Grand Theft Auto lebih banyak kepribadian dari sebelumnya. Tommy Vercetti, disuarakan oleh mendiang Ray Liotta, membawa swagger, sarkasme, dan ledakan kekerasan mendadak ke cerita, sementara karakter sampingan seperti Lance Vance, Ken Rosenberg, dan Sonny Forelli membantu membuat Vice City penuh kutipan yang enggak ada habisnya. Bahkan finale yang eksplosif tetap jadi salah satu ending terbaik Rockstar. Dunia itu sendiri juga merupakan bagian besar dari daya tariknya. Vice City lebih kecil dan lebih ringkas dari open world Rockstar selanjutnya, yang berarti pemain dengan cepat mempelajari setiap jalan pintas, gang, jembatan, dan jalan tepi pantai. Melaju di kota dengan sepeda motor sambil Billie Jean menggelegar dari radio jadi salah satu momen gaming yang masih dibicarakan orang puluhan tahun kemudian.
3. Grand Theft Auto: San Andreas
Tentang Apa: Berlatar di negara bagian fiktif San Andreas selama awal 1990-an, game ini mengikuti Carl "CJ" Johnson saat ia kembali ke Los Santos setelah kematian ibunya. Bersatu kembali dengan







