Teror Stalker Chess Streamer Berujung Penjara

Bagoes anwar

Teror Stalker Chess Streamer Berujung Penjara

Esportivonews.com – Dunia streaming dan komunitas catur internasional tengah diguncang oleh kasus kriminalitas yang sangat mengerikan. Seorang pemain catur asal Australia, Shumsheer Singh Ghumman (47), kini harus menghadapi konsekuensi hukum yang berat setelah diduga melakukan aksi penguntitan (stalking) yang ekstrem terhadap streamer Twitch ternama, Hannah Sayce. Tak hanya sekadar mengintai, pelaku diduga melakukan berbagai upaya sabotase internasional yang hampir menghancurkan hidup korban.

Kasus ini mencuat ke publik setelah pengadilan menolak permohonan jaminan (bail) yang diajukan oleh Ghumman. Berdasarkan fakta persidangan, pria berusia 47 tahun tersebut kini menghadapi sedikitnya 35 dakwaan serius, mulai dari penguntitan, intimidasi, hingga upaya menghalangi proses hukum. Meski pelaku membantah semua tuduhan tersebut dan menyatakan akan melawan di persidangan, bukti-bukti yang diajukan jaksa sangatlah mencengangkan.

Teror Stalker Chess Streamer Berujung Penjara
Gambar Istimewa : www.dexerto.com

Menurut laporan dari berbagai sumber hukum, aksi teror ini diduga berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama. Hannah Sayce, yang juga dikenal sebagai Woman Candidate Chess Master, sebenarnya telah berupaya melindungi dirinya dengan mengajukan perintah intervensi pada Maret 2025. Namun, upaya tersebut nyatanya tidak menghentikan obsesi gelap Ghumman. Jaksa mengungkapkan bahwa pelaku terus bergerak secara sembunyi-sembunyi untuk mengumpulkan informasi pribadi korban, mulai dari detail keluarga, alamat rumah, hingga rencana perjalanan internasional Sayce.

Salah satu aspek paling berbahaya dari kasus ini adalah bagaimana pelaku menggunakan taktik fitnah untuk menjebak korban di luar negeri. Dalam persidangan, polisi mengungkapkan bahwa Ghumman mengirimkan email palsu kepada otoritas di Qatar. Dalam email tersebut, ia menuduh Sayce membawa narkoba yang disembunyikan di dalam bidak catur miliknya. Akibat fitnah keji ini, Sayce sempat ditahan di sel tahanan Bandara Internasional Doha, Qatar, sebelum akhirnya kebenaran terungkap.

Tak berhenti di situ, pelaku juga diduga melakukan tindakan serupa terhadap Federasi Catur Islandia. Sayce dilaporkan sempat mengalami penahanan kembali di Islandia menyusul adanya laporan palsu yang dikirimkan oleh pelaku. Selain sabotase fisik dan hukum, Ghumman juga dituduh mengancam akan menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk memantau setiap gerak-gerik Sayce secara digital. Ia bahkan diduga melakukan intimidasi terhadap orang tua dan teman-teman dekat korban agar Sayce tidak menempuh jalur hukum.

Penangkapan Ghumman terjadi pada awal Mei di sebuah kafe miliknya di Melbourne. Selain dakwaan penguntitan, polisi juga menemukan senjata jenis nunchucks saat penangkapan tersebut. Hakim Amanda Fox akhirnya memutuskan untuk menolak jaminan bagi Ghumman karena menilai pelaku merupakan ancaman nyata bagi keselamatan Sayce dan berpotensi mengintervensi saksi-saksi.

Kasus ini menambah daftar panjang kekerasan terhadap streamer di dunia digital. Mengingat rekam jejak pelaku yang sebelumnya pernah dihukum karena kasus percobaan pembunuhan, pengadilan kini bersiap untuk melanjutkan persidangan pada bulan Oktober mendatang guna memastikan keadilan bagi Hannah Sayce.

Baca Juga

gnews

Tags

Tinggalkan komentar