Piala Dunia Geger! Sidemen Bikin Fans ‘Toxic’?

Bagoes anwar

Piala Dunia Geger! Sidemen Bikin Fans 'Toxic'?

eSportivo Fortnite – Tribun penonton di ajang Piala Dunia baru-baru ini menjadi arena "drama" tak terduga yang melibatkan trio content creator raksasa, Sidemen. Ethan Payne, Harry Lewis, dan TBJZL, yang dikenal dengan konten-konten epik mereka, ternyata berhasil memicu "clash" seru dengan para penggemar Timnas Inggris. Bayangkan, suasana pertandingan pembuka yang penuh tensi tinggi, tiba-tiba diwarnai "battle royale" verbal yang bikin heboh! Apa sebenarnya yang terjadi hingga para bintang YouTube ini jadi sorotan?

Pertandingan pembuka Inggris melawan Kroasia, yang berakhir dengan kemenangan 4-2 untuk The Three Lions, seharusnya menjadi momen euforia murni. Namun, di tengah sorak sorai, para Sidemen justru menciptakan "soundtrack" mereka sendiri. Saat Harry Lewis kembali dari bar dengan tumpukan minuman, Ethan Payne dan TBJZL berulang kali meneriakkan namanya dengan volume maksimal. Ini bukan sekadar teriakan dukungan biasa, melainkan semacam "spam chat" yang membuat penonton di sekitar mereka merasa terganggu.

Piala Dunia Geger! Sidemen Bikin Fans 'Toxic'?
Gambar Istimewa : www.dexerto.com

Seorang penggemar yang merasa "ter-griefing" akhirnya memberanikan diri melakukan "face-off" langsung. "Apakah kalian akan terus meneriakkan Harry sepanjang pertandingan?" tanyanya dengan nada kesal. Payne, dengan gaya khasnya, balik bertanya apa masalahnya. Jawaban sang penggemar singkat tapi menusuk: "Ini agak mengganggu." Reaksi Sidemen? Mereka justru mempertanyakan balik, seolah-olah berujar, "Tidak boleh berteriak di pertandingan sepak bola? Ini kan bukan turnamen catur!" Sebuah "emote" sarkasme yang mungkin tidak disukai banyak orang.

Namun, seperti dalam setiap game, ada momen di mana strategi berubah. Ketika Inggris mendapatkan penalti, Sidemen melihat ini sebagai kesempatan emas untuk "level up" interaksi mereka. Mereka berteriak histeris mendukung Harry Kane, dan kali ini, sang penggemar yang sebelumnya kesal justru setuju. "Sekarang kalian boleh berteriak Harry!" katanya, seolah memberikan "izin" untuk momen yang tepat. Sebuah "GG" kecil dari kedua belah pihak, menandakan bahwa ada waktu dan tempat untuk setiap jenis sorakan.

Insiden ini memicu diskusi panas di komunitas online, mirip dengan perdebatan sengit di forum game. Apakah ini tentang kebebasan berekspresi atau etika di ruang publik? Beberapa penggemar sepak bola tradisional merasa "meta" baru para YouTuber yang merekam reaksi mereka di pertandingan merusak pengalaman otentik. Seperti yang diungkapkan di esportivonews.com, ada argumen kuat bahwa sepak bola adalah tentang gairah dan volume, tapi juga ada batasnya.

Reaksi di platform X (sebelumnya Twitter) pun tak kalah sengit. Seorang netizen berkomentar pedas, "Pria itu mungkin menghabiskan hampir £5000 untuk penerbangan, tiket, dan akomodasi hanya untuk menikmati pengalaman sekali seumur hidup tanpa seseorang di belakangnya merekam diri sendiri dan berteriak seperti balita." Komentar lain menambahkan, "Mereka tidak mendukung Inggris. Mereka hanya ingin menjadi pusat perhatian." Ini seperti melihat "toxic chat" setelah kekalahan telak, di mana para pemain saling menyalahkan.

Jadi, siapa yang "menang" dalam "duel suara" ini? Sidemen dengan konten viral mereka, atau para penggemar yang mencari ketenangan di tengah hiruk pikuk? Insiden ini bukan hanya tentang teriakan di stadion, tapi juga tentang benturan budaya antara era konten digital dan pengalaman langsung. Sebuah pengingat bahwa di setiap "arena" publik, ada aturan tak tertulis yang perlu dipahami, bahkan oleh para "pro player" sekalipun.

Baca Juga

gnews

Tags

Tinggalkan komentar