eSportivo Fortnite – Bersiaplah, para gamer dan penikmat media, karena ada update yang benar-benar di luar meta! Di tengah dominasi streaming dan resolusi 4K, seorang sutradara berani meluncurkan film baru yang hanya bisa kamu tonton melalui kaset VHS. Ya, kamu tidak salah dengar! Ini adalah film direct-to-video pertama dalam dua dekade terakhir, dirilis sepuluh tahun setelah produksi VCR terakhir di dunia dihentikan. Sebuah langkah yang berani, atau mungkin strategi anti-mainstream paling gila abad ini?
Robert dos Santos, sang sutradara di balik karya revolusioner ini, berjudul This Is How the World Ends, membawa kita ke sebuah pesta di penghujung peradaban manusia, di mana kiamat justru disebabkan oleh kecerdasan buatan (AI). Namun, mengapa harus VHS? Kepada The Guardian, Santos menjelaskan filosofinya yang unik. "Saya suka ide bahwa Anda harus menjadi bagian dari ‘klub’ untuk bisa menonton ini," ujarnya, se seolah merujuk pada komunitas hardcore yang memahami nilai di balik pilihan ini. "Ini untuk mereka yang punya selera spesifik. Ada sekelompok manusia yang benar-benar mengerti apa yang kami lakukan."

Bagi para veteran yang tumbuh di era 70-an akhir hingga awal 2000-an, VHS adalah raja hiburan sebelum digantikan oleh DVD yang lebih tajam dan praktis. Kemudian, Blu-ray dan akhirnya streaming mengambil alih panggung di akhir 2000-an dan 2010-an. Film besar terakhir yang dirilis di VHS di AS adalah A History of Violence pada tahun 2006, dan produsen VCR terakhir, Funai Electric, menghentikan produksinya pada tahun 2016. Jadi, langkah Santos ini benar-benar terasa seperti revive karakter yang sudah lama knocked out dari game.
Santos melihat film ini sebagai "karya manusia untuk manusia." Ia ingin penonton merasakan sesuatu yang tidak sempurna, karena VHS memang bukan medium yang sempurna. Namun, di situlah letak keindahannya. "Ada proses fisik di baliknya. Anda harus memesan kaset dan, bagi sebagian orang, bahkan harus mencari dan membeli VCR," tambahnya. Ini adalah sebuah perlawanan terhadap digitalisasi media yang serba instan, sekaligus kritik terhadap AI, tema sentral dalam filmnya. Ia percaya pada nilai interaksi dan keterlibatan manusia dalam proses kreatif, bukan sekadar konsumsi pasif.
Jangan khawatir jika kamu sudah tidak punya VCR, karena This Is How the World Ends tidak akan selamanya eksklusif di VHS. Santos membalikkan jadwal rilis konvensional yang biasanya dimulai dari bioskop, lalu DVD/Blu-ray, dan terakhir VHS. "Kami bilang: tidak. Jika Anda ingin menonton ini, siapkan VCR Anda dan mari kita mulai," jelasnya. Setelah debut VHS, film ini akan dirilis dalam format Blu-ray dan DVD, baru kemudian tayang di bioskop dan platform streaming. Sebuah strategi rilis yang benar-benar membalikkan meta industri film!
Jadi, apakah kamu siap untuk kembali ke masa lalu dan merasakan sensasi menonton film dengan sentuhan glitch khas VHS? Film ini dijadwalkan rilis pada 7 Juni, bertepatan dengan Hari VCR Sedunia. Sebuah easter egg yang menarik, bukan? Apakah ini akan menjadi awal dari tren baru yang menantang dominasi digital, atau hanya sebuah event nostalgia yang unik? Hanya waktu yang akan menjawabnya, dan kami di esportivonews.com akan terus memantau perkembangan "perang" antara analog dan digital ini!







